Mei 23, 2008

MERUMUSKAN TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

PENGANTAR

TIK

Hasil akhir dari kegiatan mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal mahasiswa adalah menentukan garis batas antara perilaku yang tidak perlu diajarkan dan perilaku yang harus diajarkan kepada mahasiswa. Perilaku yang akan diajarkan ini kemudian dirumuskan dalam bentuk tujuan instruksional khusus (TIK).

  1. pengertian tik

tujuan instruksional khusus adalah terjemahan dari specific instructional objective. Literatur asing biasanya menggunakan juga objective atau enabling objective, untuk membedakannya dari general instructional objective, goal, atau terminal objective, yang berarti tujuan instruksional umum (TIU) atau tujuan instruksional akhir. Dalam program Applied Approach (AA), TIK disebut sasaran belajar.

Dick dan Carey (1985) mengulas bagaimana dunia pendidikan Amerika dipengaruhi oleh Roberth Mager untuk merumuskan TIK dengan kalimat yang jelas, pasti, dan dapat diukur sejak pertengahan tahun 1960. Maksudnya adalah TIK diungkapkan secara tertulis dan diinformasikan kepada mahasiswa sehingga mahasiswa dan pengajar memiliki pengertian yang sama tentang apa yang tercantum dalam TIK.

Pasti, artinya TIK tersebut mengandung satu pengertian, atau tidak mungkin ditafsirkan ke dalam pengertian yang lain. Untuk itu, TIK dirumuskan dalam bentuk kata kerja yang dapat dilihat oleh mata (observable).

Dapat diukur, artinya bahwa tingkat pencapaian mahasiswa dalam perilaku yang ada dalam TIK itu dapat diukur dengan tes atau alat pengukur yang lain. Persoalan yang sering dihadapi dalam instruksional adalah: (1) banyak guru yang menulis tujuan instruksional berdasarkan daftar isi buku yang telah ada sehingga tujuan instruksional ditulis berdasarkan isi pelajaran. Seharusnya para guru melakukan sebaliknya. (2) tujuan instruksional sekedar dibuat, tetapi tidak dipraktekan dalam proses instruksional sehingga tidak menghasilkan dampak perubahan dalam kegiatan instruksional. Dick dan Carey menyebutkan bahwa penyebab keadaan tersebut adalah tidak dikaitkannya penulisan tujuan instruksional dengan proses penyusunan desain instruksional secara keseluruhan.

Para guru tersebut tidak melihat pengertian yang mendalam tentang kaitan antara penulisan tujuan instruksional tersebut dengan komponen-komponen lain dalam sisitem instruksional. Mereka lebih memandang penulisan tujuan instruksional tersebut sebagai teknik baru dalam menuliskan tujuan instruksional, sedangkan isi pelajaran, metode instruksional dan tes yang digunakannya tetap sama seperti yang digunakan selama ini. Inovasi itu terbatas pada penulisan tujuan instruksional itu saja.

Sejak awal tahun 1970 para guru di Indonesia dari tingkat SD sampai Sekolah Menengah telah ditatar dalam pengembangan instruiksional dengan menggunakan model PPSI (Program Pengembangan Sistem Instruksional. Di dalam kurikulum, tujuan instruksional umum dan isi pelajarn telah ditetapkan.

Para guru SD sampai SMTA tersebut harus meneruskannya dengan kegiatan analisis instruksional, identifikasi perilaku dan karakteristik siswa, perumusan TIK, penulisan tes, penentuan strategi instruksional dan pengembangan bahan instruksional bila bahan yang bersifat standar belum cukup.

Untuk yang terakhir ini yaitu bahan instruksional, departemen pendidikan nasional telah mengeluarkan buku pegangan yang dimaksudkan sebagai dasar dan patokan isi pelajaran secara nasional. Dengan tersedianya kurikulum nasional dan buku-buku tersebut, para guru masih harus mengembangkan sistem instruksionalnya yang sesuai dengan perilaku awal dan karakteristik awal siswa, serta fasilitas dan alat-alat yang ada di sekolah dan lingkungan masing-masing.

Tiga pertanyaan yang perlu dicari jawabannya adalah:

  1. Seberapa jauh pengajar melihat kedudukan tujuan instruksional tersebut sebagai dasar dalam menetapkan komponen-komponen lain dalam sistem instruksional?
  2. Seberapa jauh para pengajar tersebut menerapkan prosedur pengembangan instruksional dalam mempersiapkan kegiatan instruksionalnya?
  3. Seberapa jauh pengajar yang telah ditatar itu menggunakan desain instruksional yang telah disusunnya dalam kegiatan instruksional yang dilakukannya sehari-hari?

Perlu dicari pula dampak usaha peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan sikap pengajar dalam pengembangan instruksional terhadap prestasi belajar mahasiswa.

Inovasi dalam sistem instruksional harus semakin mengarah pada dua hal, sebagai berikut:

  1. Ketrampilan teknis tentang penerapan proses pengembangan instruksional secara lebih cermat, teliti dan sistematis;
  2. Persuasi motivasi, supervise, serta monitoring terhadap praktek penggunaan ketrampilan teknis tersebut di dalam kelas sehari-hari.

Pentingnya menempatkan tujuan instruksional sebagai komponen awal dalam menyusun desain instruksional merupakan pusat perhatian pengembangan instruksional. Ia merupakan dasar dan pedoman bagi seluruh proses pengembangan instruksional selanjutnya. Perumusan TIK merupakan titik permulaan yang sesungguhnya dari proses pengembangan instruksional. Sedangkan proses sebelumnya, merupakan tahap pendahuluan untuk mrnghasilkan TIK.

Tujuan instruksional khusus merupakan satu-satunya dasar dalam menyusun kisi-kisi tes. Selanjutnya, tujuan instruksional merupakan pula alat untuk menguji validitas isi tes. Dalam menentukan isi pelajaran yang diajarkan, pengembangan instruksional merumuskannya berdasarkan perilaku yang ada dalam TIK. Dengan perkataan lain, isi pelajaran yang akan diajarkan disesuaikan dengan apa yang akan dicapai. Itulah sebabnya dalam uraian terdahulu dinyatakan bahwa sebagian pengajar telah melakukan hal keliru karena membalik prinsip di atas, yaitu dengan melihat isi pelajaran dari dalam daftar isi buku untuk menyusun tujuan instruksional.

Demikian pula dalam memilih metode instruksional. Pengembang instruksional harus memilih metode tertentu untuk mencapai perilaku yang tercantum dalam tujuan. Dengan perkataan lain, metode instruksional dipilih berdasarkan perilaku yang ada dalam TIK.

Tujuan menjadi arah proses pengembangan instruksional karena di dalamnya tercantum rumusan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang akan dicapai pada akhir proses instruksional. Keberhasilan dalam mencapai tujuan merupakan ukuran keberhasilan sistem instruksional yang digunakan pelajar.

Bagaimana Merumuskan Tujuan Instruksional Khusus

TIK antara lain digunakan untuk menyususn tes. Karena itu, TIK harus mengandung unsur-unsur yang dapat memberikan petunjuk penyusunan tes sebagai penguukur perilaku yang terdapat di dalamnya. Unsur-unsur ini dikenal dengan ABCD (A=Audience, B=Behavior, C=Condition, dan D=Degree).

1. A=Audience

Audence adalah siswa atau mahasiswa yang belajar. Dalam tujusn instruksional khusus harus dijelaskan siapa yang akan mengikuti pelajaran. Keterangan tersebut diusahakan sespesifik mungkin agar sejak awal orang-orang yang tidak termasuk dalam batasan tersebut sadar bahwa bahan instruksional yang dirumuskan atas dasar TIK tersebut belum tentu sesuai bagi mereka. mungkin pula strategi yang digunakan di dalamnya dirasakan kurang sesuai. Mereka lebih senang kepada pemecahan masalah daripada uraian konsep, prinsip atau prosedur, karena mereka telah menguasainya dengan baik. Mereka bukan populasi sasaran yang dimaksud. Ini berarti, seseorang yang berada di luar populasi sasaran dari suatu sistem instruksional tetapi ingin mengikuti mata pelajaran tersebut, harus bersedia menempatkan diri seperti siswa atau mahasiswa yang menjadi sasaran sistem instruksional tersebut.

2. B=Behavior

Behavior adalah perilaku yang spesifik yang akan dimunculkan oleh siswa setelah selesai proses belajarnya. Perilaku ini terdiri dari dua bagian penting, yaitu: kata kerja dan objek. Kata kerja menunjukkan bagaimana siswa mendemontrasikan sesuatu seperti: menyebutkan, menjelaskan, menganalisis, menggergaji, dan melompat. Objek menunjukkan apa yang akan didemonstrasikan itu, misalnya: defenisi manajemen, cara menganalisis tujuan instruksional, laporan laba-rugi, dan gaya flop of bury. Komponen perilaku dalam tujuan instruksional khusus adalah tulang punggung TIK secara keseluruhan. Tanpa perilaku yang jelas, komponen yang lain tidak menjadi bermakna.

Contoh (gabungan kata kerja dan objek disatukan dalam bentuk prilaku):

  1. Menyebutkan defenisi manajemen;
  2. Menganalisis laporan laba-rugi;
  3. Menggergaji kayu;
  4. Melompat dengan gaya flop of bury.

3. C=Condition

Kondisi merupakan batasan yang dikenakan kepada siswa atau alat yang digunakan pada saat evaluasi, bukan pada saat ia belajar. Komponen ini memberi petunjuk kepada pengembang tes tentang kondisi atau dalam keadaan bagaimana siswa diharapkan mendemonstrasikan perilaku yang dikehendaki pada saat ia dites. Misalnya:

  1. Diberikan berbagai rumus mean, deviasi, standar, korelasi dan dua deret angka;
  2. Dengan menggunakan kriteria yang ditetapkan;
  3. Dengan diberikan kalimat-kalimat aktif dalam bahasa Indonesia;
  4. Diberikan kesempatan tiga kali percobaan.

Bila contoh kondisi di atas (komponen C) digabungkan dengan komponen A (siswa) dan B (perilaku), akan tersusun kalimat-kalimat sebagai berikut:

  1. Jika diberikan berbagai rumus mean, deviasi, standar, korelasi dan dua deret angka, lulusan jurusan Statistik Terapan semester II mampu menghitung angka korelasi.
  2. Dengan menggunakan kriteria yang ditetapkan untuk menilai komponen-komponen dalam sistem instruksional, mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan semester I mampu menganalisis perbedaan berbagai model desain instruksional.
  3. Dengan diberikan kalimat aktif dalam bahasa Indonesia, mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris semester III mampu menerjemahkannya ke dalam kalimat pasif dalam bahasa Inggris.
  4. Jika diberikan kesempatan tiga kali percobaan, mahasiswa Fakultas Pendidikan olah raga mampu melakukan lompat tinggi gaya flop of bury.

Catatan: komponen C dalam TIK merupakan unsur penting pengembangan instruksional dalam menyusun tes.untuk tes pilihan ganda, misalnya, komponen C dalam TIK menjadi dasar penyusunan masalah (stem). Dengan kata lain butir tes harus relevan kondisi yang telah dijabarkan dalam TIK. Misalnya: dengan menggunakan rumus-rumus dibawah ini, hitunglah korelasi dua deret angka ini.

4. D=Degree

Pertanyaan mendasar yang dapat dijadikan petunjuk pengukuran keberhasilan mahasiswa dalam mencapai perilaku adalah seberapa baik mahasiswa diharapkan menampilkan perilaku tersebut?

Degree adalah tingkat keberhasilan mahasiswa mencapai perilaku tertentu dengan sempurna, tanpa salah, dalam waktu satu menit, dengan ketinggian 160 cm, atau ukuran tingkat keberhasilan yang lain. Tingkat keberhasilan ditunjukkan dengan batas minimal dari penampilan suatu perilaku yang dianggap dapat diterima. Di bawah batas itu berarti mahasiswa belum mencapai tujuan instruksional khusus yang telah ditetapkan.

Tingkat keberhasilan pencapaian TIK merupakan batas minimal yang digunakan untuk menyatakan bahwa penampilan perilaku mahasiswa untuk TIK tersebut dapat diterima. Apabila menurut hasil analisis instruksional perilaku dalam TIK merupakan perilaku prasyarat yang harus dikuasai lebih dahulu sebelum meneruskan mempelajari perilaku yang lain, kedudukan komponen D dan TIK yang bersangkutan menjadi sangat penting. Karena itu, tingkat keberhasilan 90% mungkin perlu digunakan untuk TIK tersebut.

Batas 80% atau 90% itu biasanya digunakan untuk menyatakan batas minimal penguasaan (level of mastery) mahasiswa terhadap perilaku. Prinsip yang serupa digunakan dalam sistem belajar tuntas, yaitu sistem belajar yang hanya memperkenankan mahasiswa maju ke bagian berikutnya apabila telah menguasai bagian sebelumnya. Untuk perilaku yang tidak menjadi prasyarat, batas tersebut dapat diturunkan, misalnya 65-70%. Untuk suatu perilaku yang harus dilakukan dengan benar, tidak boleh ada kesalahan, karena hal itu mengandung akibat bahaya besar, tingkat keberhasilan itu dapat menjadi 100% (sempurna). Misalnya: Menerbangkan pesawat tempur, melemparkan garnat, mencampur sat kimia yang berbahaya, atau tendangan pinalti dalam sepak bola.

Dalam merumuskan TIK, keempat komponen tersebut tidak selalu tersusun ABCD, tetapi sering CABD. Rumusan dengan CBAD lebih mudah diiukti bila ingin memperhatikan perumusan TIK dalam suatu kalimat. Contoh TIK menurut keempat komponen:

Warna hijau = komponen A (Audence)

Warna merah = komponen B (Behavior)

Warna biru = komponen C (Condition)

Warna pink = komponen (Degree)

Pola ABCD

  1. Mahasiswa Jurusan Statistik Terapan semester II mampu menghitung korelasi dengan berbagai rumusan mean, standar deviasi, korelasi, dan dua deret angka yang diberikan, minimal 90% benar.
  2. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris semester III mampu menerjemahkan ke dalam kalimat pasif dalam bahasa Inggris jika diberikan kalimat aktif dalam bahasa Indonesia, paling sedikit 80% benar.
  3. Mahasiswa Fakultas Pendidikan Olah Raga mampu melakukan lompat tinggi gaya flop of bury jika diberikan kesempatan tiga kali percobaan, minimal setinggi 165 cm.

Pola CABD

  1. Jika diberikan berbagai rumusan mean, standar deviasi, korelasi, dan dua deret angka, mahasiswa Jurusan Statistik Terapan semester II mampu menghitung korelasi minimal 90% benar.
  2. Jika diberikan kalimat aktif dalam bahasa Indonesia, mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris semester III mampu menerjemahkannya ke dalam kalimat pasif dalam bahasa Inggris paling sedikit 80% benar.
  3. Jika diberikan kesempatan tiga kali percobaan, mahasiswa Fakultas Pendidikan Olah Raga mampu melakukan lompat tinggi gaya flop of bury minimal setinggi 165 cm.

Pola CBAD

  1. Jika diberikan rumus mean, standar deviasi, korelasi, dan dua deret angka, kemampuan menghitung korelasi mahasiswa Jurusan Statistik Terapan semester II minimal 90% benar.
  2. Jika diberikan kalimat aktif dalam bahasa Indonesia, kemampuan menerjemahkannya ke dalam kalimat pasif dalam bahasa Inggris oleh mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris semester III paling sedikit 80% benar.
  3. Jika diberikan kesempatan tiga kali percobaan, kemampuan melakukan lompat tinggi gaya flop of bury mahasiswa Fakultas Pendidikan Olah Raga minimal setinggi 165 cm.

3. Hubungan TIK dan Isi Pelajaran

Hubungan TIK dan isi pelajaran, antara lain:

  1. Dengan merumuskan TIK anda telah dapat menidentifikasi isi pelajaran serta menulis atau memilih bahan pelajaran.
  2. Isi Pelajaran untuk setiap TIK akan tergambar dalam strategi instruksional. Dengan perkataan lain rumusan isi pelajaran secara singkat akan dibuat oleh disainer strategi instruksional.


SOTERIOLOGI INJIL MATIUS

(Bagian I)

PENGANTAR

Soterologi merupakan tema yang khas bagi semua agama yang ada. Tema ini cenderung menjadi prioritas setiap pemeluk agama sebab agama diharapkan menjadi suluh pencapaian keselamatan hidup manusia. Apa yang diinginkan ketika seseorang memeluk suatu agama tertentu, di antaranya adalah mendapatkan keamanan dan mencari perlindungan dalam hidup.1) Suatu ciri pencarian keselamatan, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai suatu keadaan aman tanpa bahaya.2)Dalam kesadaran penulis, konsep keselamatan (soteriologi) masing-masing agama berbeda, bergantung dari kaidah doktrinal dan interpretasinya. Karena itu, diusulkannya berbagai cara atau jalan pencapaian keselamatan merupakan hal yang lumrah.

Tetapi pembahasan tentang keselamatan sangatlah penting sehingga setiap orang bisa memahami eksistensi diri dan hubungannya dengan segala yang lain selain dirinya di dunia ini, bahkan di suatu dunia lain yang tidak mungkin di jelajahinya. Bagaimana setiap orang secara individu maupun komunitas menemukan jawaban dan penjelasan atas dunia dan hidup serta segala yang termaktub di dalamnya.

Bertalian dengan masalah tentang keselamatan, maka penulis akan mengungkapkan serta membahas dalam kajian ini konsep soteriologi yang disaksikan oleh Alkitab yang kita yakini sebagai dasar iman Kristen, khususnya soteriologi Matius. Kiranya kajian ini dapat memenuhi kebutuhan pemenuhan tugas akhir Teologi PB dan bahan belajar bersama memahami dan memperkaya konsep soteriologi.

PENGERTIAN DAN MAKNA SOTERIOLOGI

Mengenai pengertian soteriologi atau keselamatan, terdapat berbagai pandangan yang memiliki kemiripan. Tetapi tidak jarang terdapat pula perbedaan dari berbagai perspektif. Di dalam teologi sistematik, istilah soteriologi digunakan untuk mengacu pada doktrin Alkitabiah tentang keselamatan. Hal tersebut mengenai pertobatan sebagai sebuah proses secara menyeluruh. Totalitas proses ini dipahami sebagai bagian dari rencana Allah untuk menolong ‘yang hilangdan yang berbuat dosa atau pelanggaran dan membawa mereka kepada hubungan yang abadi dengan Tuhan.3) Keselamatan Kristiani seperti yang telah dikemukakan, menghadirkan Yesus Kristus sebagai Penyelamat.4) Menurut DR. C. Groenen, umat Kristen, terutama para pemimpinnya, sudah hampir 2000 tahun mewartakan keselamatan dengan memakai berbagai macam istilah, ungkapan dan lambang. Umat Kristen terus berkata, bahwa manusia oleh Allah melalui Yesus Kristus sudahdiselamatkan’, asal saja mau percaya.5) Hal ini menunjukan bahwa keselamatan telah hadir melalui Yesus Kristus namun dibutuhkan pertobatan dari manusia agar dapat memulihkan kembali hubungannya dengan Allah. John G. Reisinger secara lebih terperinci mengungkapkan empat point penting dalam keselamatan Kristiani:

1. Seorang manusia mesti menyesal, bertobat serta percaya kepada Injil untuk diselamatkan.

2. Semua yang menyesal, bertobat, dan percaya pada Injil akan diselamatkan.

3. Pertobatan dan Iman merupakan tindakan manusia secara tulus (dalam hal menerima Kristus).

4. Alkitab menyatakan bahwa manusia mesti menyesal, bertobat dan percaya untuk diselamatkan, tetapi juga dengan tegas menyatakan bahwa dosa alami manusia (pada saat Adam), tidak dapat di hapuskan.6)

Namun, apakah keselamatan Kristiani hanyalah bersifat pengampunan dan pertobatan secara vertikal? Hal ini muncul sebagai akibat dari kegelisahan bahwa visi keselamatan seperti itu tidak dapat menjawab realitas hidup manusia di dunia. Jika demikian, maka keselamatan Kristiani hanya menekankan pada aspek ritual dan mengesampingkan aspek sosial. Oleh karena itu, mesti ada penggalian lebih jauh di dalam Alkitab tentang keselamatan manusia dalam kaitannya dengan Allah. Di dalam Alkitab terdapat serangkaian sejarah keselamatan Allah yang diperuntukan bagi umat manusia. Dengan berkaca pada pentingnya peranan Biblis/Alkitab dalam teologi Kristen, khususnya dalam menampilkan ciri khas keselamatan Kristiani, maka diperlukan sebuah penelaahan Alkitabiah bahkan penafsiran lebih mendalam terhadap teks-teks di dalam Alkitab yang menyatakan visi keselamatan bagi manusia. Melalui penafsiran, eksegese yaitu penyelidikan berupa analisis (terhadap beberapa teks Alkitab), maka dapat digali, diatur dan disusun sedemikian rupa sehingga tampil suatu pandangan menyeluruh yang kurang lebih teratur mengenai cara Alkitab memberitakan keselamatan dan apa yang bersangkutan dengannya. Walaupun disadari bahwa dengan cara seperti ini (sintesis), terdapat banyaklobang’ yang tidak dapat diisi, namun teologi Alkitabiah tentang keselamatan mesti berupa sintesis.7) Cara ini yang coba dipakai untuk mengungkapkan visi keselamatan yang terdapat dalam Injil Lukas, yaitu dengan mencoba melakukan proses eksegese dan penafsiran terhadap Lukas 19:1-10, maka dapat digali pandangan Lukas secara keseluruhan terhadap keselamatan itu sendiri. Sebagai gambaran awal untuk lebih memahami visi Keselamatan Injil Lukas, maka mesti diketahui sejarah Keselamatan dalam Injil tersebut. Lalu seperti apakah sejarah keselamatan Lukas tersebut?

Menyangkut visi keselamatan dalam Injil Lukas, Dr. Tom Jacobs menyatakan bahwa Yesus, yang penuh Roh Allah, adalah pernyataan dan perwujudan keselamatan Allah.8) Keselamatan itu pasti mempunyai arti eskatologis, tetapi sudah menjadi riil sekarang dalam tindakan Yesus untuk menyelamatkan orang lain.9) Keselamatan tersebut masih mempunyai arti Alkitabiah yaitusyalomdan mengandung kesejahteraan baik lahir maupun batin, baik di dunia maupun di akhirat. Dan itulah maksud karangan Lukas yaitu menggambarkan dengan jelas, keselamatan sebagaimana berada dalam diri Yesus, dalam kebaikan-Nya untuk orang miskin yang malang, untuk orang berdosa dan terbuang, untuk anak kecil dan gembala yang sederhana. Pendek kata keselamatan itu bagi semua orang yang “miskin”, “lapar”, “menangisdandibencidi dunia ini (Luk. 6:20-22).10)

G.B. Caird menegaskan keyakinan Lukas bahwa Yesus beserta orang-orang yang dipilih-Nya, benar-benar memahami maksud dari Anugerah Allah (10:21-22), tetapi bagi mereka yang memiliki mata untuk melihat, maksud itu telah diungkapkan melalui berbagai peristiwa dalam pekerjaan-Nya untuk memulihkan manusia (baik laki-laki maupun perempuan) agar kembali kepada martabat mereka yang sesuai dengan anak-anak Allah. Karena kedatangan-Nya adalah untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang (Luk. 19:10).11) Untuk lebih menegaskan visinya, penulis Injil Lukas menyisipkan gagasan pribadinya (yang tidak terdapat kesejajarannya pada Injil Matius dan Markus) mengenai keselamatan. Salah satu teks yang menjadi ciri khas injil Lukas adalah peristiwa Zakheus (19:1-10). Dalam teks tersebut menggambarkan tokoh Zakheus sebagai seorang yang kaya karena praktek pemungutan pajak yang berlebihan. Dan praktek tersebut juga yang mengakibatkan ia dikategorikan sama dengan perampok, pemeras serta penindas. Inti pemberitaan Injil Lukas (4:18-19) sendiri ditujukan bagi kaum miskin, orang tertindas, tawanan, serta orang buta, dan jika dilihat secara harafiah, Zakheus sendiri pun tidak termasuk dalam kategori inti pemberitaan Injil Lukas (4:18-19), yaitu ditujukan bagi orang miskin, orang tertindas/tawanan, orang buta. Zakheus adalah orang kaya dan justru memeras orang-orang miskin. Pertanyaannya di mana letak keunggulan Zakheus sehingga dapat memperoleh keselamatan melalui Yesus? Apakah ini menunjukan ketidakkonsistenan visi keselamatan Lukas terhadap inti pemberitaannya? Hal ini tentu saja menjadi sebuah bahan kajian yang menarik di mana terlihat sedikit ketidak konsistenan injil Lukas terhadap inti pemberitaannya. Namun menurut William Barclay, Zakheus tidaklah berbahagia dengan keadaanya yang berkecukupan itu dan justru ia sendiri merasa kesepian, karena ia telah memilih jalan yang menjadikan dirinya sebagai seorangoutcast/yang diasingkan”.12) Hal yang menarik disini adalah, apakah inti pemberitaan keselamatan tersebut juga diperuntunkan bagi orang yang diasingkan dari sebuah komunitas masyarakat oleh karena tindakan kejahatannya? Hal ini mesti juga mendapatkan penafsiran yang lebih dalam namun, sekali lagi William Barclay menegaskan bahwa penyambutan terhadap Yesus menjadikan Zakheus (yang diasingkan dan dibenci) mendapatkan Kasih Allah.13) Penyambutan Zakheus bukan hanya sekedar menerima Yesus untuk masuk kedalam rumahnya, tetapi penyambutan itu disertai dengan keputusan, janji serta tindakan nyata Zakheus untuk membagi harta miliknya kepada orang-orang miskin serta orang-orang yang telah diperasnya (bnd. Lukas 18:18-27).14) Hal ini pun menjadi menarik untuk dikaji secara mendalam, sebab dengan demikian Zakheus telah melakukan apa yang dinyatakan dan dituntut dalam pemberitaan Injil tersebut (ayat 8).

Memang berbagai pendapat para ahli tersebut serta kerangka berpikirnya mesti dibuktikan dan dikembangkan lebih lanjut dalam proses penulisan selanjutnya. Oleh karena itu, berbagai pendapat tersebut dapat dijadikan acuan sekaligus bahan pembuktian melalui proses hermeneutik yang akan dilakukan. Sehingga kita akan menemukan visi keselamatan yang terkandung dalam Lukas 19:1-10 sebagai representase dari Injil Lukas secara utuh, serta implikasinya bagi konteks bergereja masa kini.

SOTERIOLOGI MENURUT INJIL MATIUS

Situasi Jemaat

Untuk mengetahui soteriologi Matius, yaitu pandangan dan visi Matius tentang keselamatan maka perlu terlebih dahulu memahami konteks komunitas Matius sebagai area di mana Matius menyampaikan teologinya tentang keselamatan.

Berbicara tentang situasi jemaat, hal tersebut tidak terlepas-pisah dari keadaan jemaat dan perkembangannya serta berbagai konsep yang hidup di masanya yang merupakan alamat penulisan injil Matius.

Dari paparan sebelumnya, telah dibicarakan banyak hal mengenai siapa pengarang injil Matius serta bagaimana hubungannya dengan dunia di mana tulisannya ditujukan. Dari tulisan-tulisannya, Matius jelas adalah bekas seorang Yahudi Kristen yang ingin membina jemaat orang percaya, orang Kristen.15) Karena itu, dapat dipahami bahwa kritikan Matius, khususnya terhadap Yudaisme, juga bertujuan untuk mengingatkan komunitasnya untuk tidak melalukukan hal yang sama seperti yang selalu dipraktekan orang-orang Yahudi (khususnya para pemimpin mereka) serta memberikan wacana baru tentang keterbukaan keselamatan bagi seluruh manusia dan dunia (Mat 28:19). Oleh karena itu, Injil Matius sedikit banyak menampilkan wajah universal yang mencakup masyarakat secara umum, bukan hanya bersifat sektarian.

Secara khusus penulis akan memperlihatkan masalah-masalah situasi jemaat Matius sebagai gambaran masalah ekklesiologi yang dihadapi Matius. Untuk memahami situasi jemaat Matius, alangkah lebih baik jika dikemukaan terlebih dahulu mengenai keanggotaan komunitas Matius dan lingkungan sosial di mana komunitas itu hidup dan mengembangkan dirinya.

1. Komunitas Matius

Pada bagian ini, penulis akan memusatkan perhatian pada persekutuan orang-orang Kristen yang kepada mereka Injil Matius ditulis. Siapakah mereka dan macam apakah anggota komunitas Matius itu?

Sebagaimana yang telah dibicarakan terdahulu (lihat Kepengarangan Injil Matius), penulisan Injil Matius tampak ditujukan kepada suatu komunitas orang-orang Kristen asal Yahudi dan non-Yahudi yang berbahasa Yunani di Antiokhia Siria. Naskah Injil Matius sendiri menyaksikan bahwa bahasa yang digunakan oleh pembaca dimaksud Matius adalah bahasa Yunani yang sering digunakan di kota-kota.16) Hal ini tidak serta-merta menghilangkan sama sekali bayangan terhadap komunitas Matius yang menggunakan bahasa Ibrani atau Aram. Dalam beberapa kesempatan dalam penulisannya, Matius juga menggunakan kata Semit yang tidak diterjemahkan, misalnya: hraka (Mat 5:22), mamona (Mat 6:24) dan belzeboul (Mat 10:25). Meskipun demikian kebanyakan penafsir Injil Matius tidak terlalu kaku untuk mempersoalkan masalah ini, karena sebenarnya yang ingin dibuktikan tidak lebih dari pada bahwa penulis Injil Matius mengandaikan bahwa komunitas pembaca Injilnya memahami kata-kata atau idiom seperti itu.17) Komunitas Matius juga merupakan orang-orang yang berlatar-belakang Yahudi dan bukan Yahudi. Hal ini disarankan oleh keseluruhan isi Injil yang mengandaikan pengetahuan tentang pemikiran, sejarah dan tradisi-tradisi Yahudi pada satu pihak dan keterbukaan terhadap bangsa-bangsa lain di lain pihak. Ada banyak ciri dari Injil Matius yang menunjukan bahwa penulis Injil Matius menulis untuk paguyuban Kristen yang umumnya berlatar-belakang Yahudi. Matius memberi tekanan khusus pada Perjanjian Lama dan Hukum Taurat. Hukum itu dianggap masih tetap berlaku (Mat. 5:17-19; 23:23) seperti adat kebiasaan Yahudi. Komunitas itu setia melaksanakan hukum Sabat Yahudi (Mat. 24:20). Mereka pun diajak mengakui wewenang ahli Kitab Yahudi yang menempatikursi Musa” (Mat. 23:2-3). Mereka juga masih membayar pajak Bait Allah (Mat. 17:24-27). Demikian pula dalam pengetahuan dan konsep kehidupan keagamaan yang bersifat keyahudian.18)

Selain itu konsep kemuridan juga diperluas keluar batas-batas keyahudian dan mencakup orang-orang atau bangsa-bangsa lain yang bukan Yahudi. Matius juga memberi gambaran tentang keaktifan misi pemberitaan Injil secara terbuka dan universal kepada bangsa-bangsa lain (Mat 28:19-20; bnd. 12:21; 13:38; 24:14). Ada pula sebagian orang kafir yang menjadi Kristen (bnd. Mat 8:5-13). Rupanya tidak ada ketegangan antara dua kelompok ini (Yahudi dan bukan Yahudi). Satu-satunya keterangan yang menunjukkan penerimaan dan keterbukaan komunitas Matius terhadap bangsa non-Yahudi adalah diperlunaknya tata cara Yahudi seperti sunat yang diganti dengan baptisan (Mat 28:19-20) sehingga orang-orang yang bukan Yahudi tidak lagi terhalang untuk menjadi Kristen.

Oleh karena itu, kesimpulan yang dapat diambil tentang keanggotaan komunitas Matius adalah bahwa anggota dari komunitas Matius adalah orang-orang Kristen yang berlatar belakang baik Yahudi maupun kafir. Demikian halnya dengan gambaran Kingsbury yang meyakinkan setiap pembaca Injil Matius bahwa komunitas Matius berasal dari lingkungan keyahudian karena terdapat penggunaan Taurat dan tradisi Yahudi dalam Injilnya, serta keterbukaan misi kepada bangsa-bangsa lain di luar keyahudian.19)

Selain itu, Matius dan komunitasnya melihat dirinya sebagai bagian dari pemenuhan Perjanjian Lama, yakni sebagai umat Allah yang sejati atau yang baru. Mereka tidak semata-mata adalah orang Yahudi, tetapi juga orang-orang yang diterima dari segala bangsa dan melihat misi Allah yang kini mencapai pemenuhan di luar struktur bangsa Yahudi.

Untuk membangun kehidupannya, paguyuban Matius juga ketat dengan berbagai ajaran-ajaran Kristen, yang juga bersumber dari Taurat dan tradisi Yahudi. Matius sendiri oleh banyak ahli dipandang sebagai guru Kristen yang memberikan banyak pengajaran bagi Gereja Kristen. P.S. Minear,20) misalnya, menyebut Matius sebagai “guru Injildalam dua hal, yakni seorang yang memiliki keahlian mengajar (sebagai ahli Kitab Kristen) dan bahwa mengajar kepada para pengajar. Demikian pula dengan Kilpatrick 21) yang juga memberi perhatiannya dengan menyebut Matius sebagai nabi Kristen dan orang yang berhikmat dan mahir dalam Kitab Suci (Mat 23:34). Keduanya sampai pada pandangan bahwa Matius mengajar dengan menggunakan berbagai koleksi tradisi tentang Yesus dan digunakan dalam pekerjaan mereka dalam pengajaran lisan bagi komunitas. Hal ini mengingikasikan bahwa dalam komunitas Matius terdapat beberapa orang pengajar dan nabi. Tetapi dalam kepentingan tertentu untuk membimbing dan mendukung komunitas dalam potretkelemahan moral”, kekeliruan terhadap kesalahan pengajaran dan penganiayaan dari orang-orang Yahudi dan Kafir.22)

Semua hal itu dapat dibenarkan karena Injil Matius sendiri banyak mengungkapkan relevansinya dengan masalah-masalah yang dihadapi komunitas (Lihat pokok-pokok masalah yang dialami komunitas Matius). Tetapi tulisan Injil memuat pengajaran yang tidak secara khusus diperuntukan bagi para pengajar Kristen. Dalam Matius 18:15-17, tanggung jawab pengajaran juga diperuntukan bagi anggota komunitas. Untuk menguraikan Injil, para pemimpin atau pengajar gereja melihat bagian ini sebagai hak kepentingan mereka. G. Bornkamm menyebut pasal 18 (khusunya ayat 15-18) sebagai suatu “aturan perkumpulan”.23)

Dalam upaya untuk memahami seperti apakah komunitas Matius, maka penting sekali untuk melihat sejauh mana komunitas Matius memandang dirinya dalam kaitannya dengan paguyuban Yahudi. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, Matius dan komunitasnya berasal dari perkumpulan Sinagoge Yahudi. Awalnya orang Kristen masih bergabung dengan orang-orang Yahudi dalam ibadat-ibadat mereka (Mat 13:54). Namun orang-orang Kristen menawarkan suatu keyakinan yang agaknya bertentangan dengan keyakinan Yahudi. Orang-orang Kristen menawarkan iman mereka dan berupaya meyakinkan orang-orang Yahudi tentang identitas Mesianis Yesus sebagai kegenapan hukum Taurat dan nubuat para nabi. Mereka akhirnya tidak diterima lagi dalam ibadat Yahudi. Hal tersebut dipertegas oleh para pemimpin Yahudi dengan membuat tambahan satu doa khusus dalam doa “Delapan Belas Berkat” (Birkat-Ham-minim) agar orang-orang Kristen tidak lagi datang dalam ibadat mereka dan melakukan pewartaan kekristenan. Pembukaan doa ini berbunyi:

Semoga pemfitnah ditumpas harapannya, berhati dengki dibinasakan dan musuh-musuhmu dihancurkan…”

Tentunya yang dimaksudkan sebagai pemfitnah, berhati dengki dan musuh tidak lain adalah orang-orang Kristen.

Penolakkan yang dialami orang Kristen jelas membentangkan jarak dengan Yudaisme. Matius secara terang-terangan membedakan sinagoge Yahudi dengan tempat ibadat komunitas Matius (Mat 4:23; 9:35; 10:17; 12:9 13:54). Dengan begitu terjadilah pemisahan antara Yudaisme dan kekristenan 24), meskipun tampak juga ikatan yang masih dipertahankan ( Mat 5:17; 23:2-3).

Bila demikian adanya, hal ini bisa menjelaskan polemik yang agak keras antara Matius dengan komunitas Yahudi, serta kesungguhannya dalam mempertahankan imannya kepada Yesus sebagai jalan yang baik untuk setia kepada kehendak Allah. Dengan demikian, paguyuban Matius telah keluar atau terpisah dari lingkungan keyahudian. Itu berarti komunitas Matius sementara berada dalam suatu masa transisi ke arah pelembagaan komunitasnya sendiri.

Keistimewaan utama dalam komunitas Matius, seperti yang dipaparkan Anthony Saldarini 25), adalah mereka menggabungkan diri dalam suatu persekutuan yang sukarela dengan tujuan untuk mempertahankan diri dan membarui kelayakan prilaku mereka sebagai komunitas yang mandiri. Matius memandang diri dan komunitasnya sebagai orang-orang yang dipanggil melalui baptisan untuk mengikut Yesus, sebagai Anak Allah yang dibangkitkan dan dimuliakan serta memimpin dan tinggal bersama jemaatnya. Matius menggambarkan komunitasnya sebagai “anak-anak Allah (bnd Mat 5:9, 45; 13:38), saudara Yesus dan saudara satu sama yang lainnya. Sebagai anak Allah, mereka juga adalah “orang-orang kecil”, karena mereka mengerti bahwa diri mereka sepenuhnya tergantung pada Bapa surgawi mereka (Mat 18:3, 6, 10). Sebagai saudara Yesus dan saudara satu sama lainnya, mereka juga adalah “pelayan-pelayan” dan “hamba-hamba” satu sama lainnya (20:25-28). Dan sebagai pengikut-pengikut Yesus, mereka juga adalah “murid-murid” sebab mereka telah belajar dari Yesus (bnd. Mat 11:29; 10:1, 24-25; 23:10). Karena itu, secara eksternal, komunitas Matius memahami bahwa mereka adalah jemaat, yaitu suatu paguyuban atas dasar persaudaraan, anak-anak Allah dan murid-murid Yesus.

Dalam kehidupan komunitasnya, terdapat kelompok yang memainkan peran khusus. Kingsbury 26) membagi kelompok ini atas dua atau tiga kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok “para nabi” (Mat 10:41; 23:34). Pada prinsipnya keseluruhan paguyuban ini memandang dirinya berada dalam tradisi nabi-nabi PL dan keduabelas murid Yesus (Mat 5:12; 13:17). Akan tetapi, nampak di sana bahwa ada juga orang-orang Kristen tertentu dalam paguyuban itu yang dianggap sebagai “nabi-nabi”, yang berperan seumpama para misionaris keliling yang memberitakan Injil Kerajaan Allah kepada orang-orang Yahudi (bnd Mat 10: 41 dengan Mat 10:6, 17, 23; 23:34), tetapi terutama kepada orang-orang dari bangsa lain (Mat 10:41 dengan Mat 10:18; 24:14; 26:13, 28:19). Sangat sulit dijelaskan jika terdapat nabi-nabi Kristen yang berada di luar batas-batas paguyuban Matius. Dalam Matius 7:15-23 ada petunjuk mengenai para nabi yang aktif dalam jemaat ini. Para nabi ini dinyatakan sebagai “nabi-nabi palsu”, sebagai “serigala-serigala yang buas” (Mat 7:15). Mereka juga adalah kaum entusias, karena mereka bernubuat, mengusir setan dan membuat banyak mujizat dalam nama Yesus (Mat 7:22). Akibatnya, mereka memperoleh hukuman dalam penghakiman terakhir (Mat 7:23). Hal ini tidak lain menggambarkan bahwa mereka bukanlah nabi yang sebenarnya atau sah dalam lingkungan jemaat Kristen. Satu kelompok lainnya yang dapat dicirikan adalah mereka yang berfungsi sebagai “guru-guru”. Mereka ini ditunjuk dengan bermacam-macam cara. Demikianlah “orang benar” (dikaios; Mat 10:41) adalah seorang guru kebenaran, dan “rabi” (rabbi; Mat 23:8), “ahli Taurat” (grammateus; Mat 23:34) dan orang bijaksana (sofos; Mat 23:34), adalah orang-orang yang memiliki keunggulan dalam soal-soal yang berhubungan dengan Kitab Suci dan Hukum Taurat dan sejumlah tradisi lainnya. Mereka ini agaknya aktif dalam jemaat Matius (bnd 23:8-12).

Meskipun terdapat sejumlah orang yang dikhususkan dalam fungsi pengajaran dan pemberitaan, namun komunitas Matius tetap mempertahankan identitasnya sebagai suatu persekutuan atas dasar persaudaraan, mrid-murid Yesus, dan anak Allah. garis besar pandangan ini jelas dilihat dalam gambaran Matius tentang kemuridan komunitasnya. Dalam Matius 16:19 misalnya, Petrus digambarkan sebagai orang yang menerima dari Yesus janji tentang kuasa “kunci Kerajaan Surga”. Tetapi ia menerimanya dalam kapasitasnya sebagai “yang pertama” dari para murid yang dipanggil.27)

Oleh karena itu, ia hanya merupakan “juru bicara” dan sebagai “contoh khas” mereka dan orang-orang Kristen di kemudian hari. Memang terjadi perdebatan tentang kedudukan Petrus dalam hierarki gereja, khususnya dengan Roma Katolik yang menekankan otoritas Petrus. Namun banyak dari antara para ahli yang memandang Petrus sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan Injil Kerajaan Allah kepada jemaat. Pada bagian ini, dapat saja para pemimpin umat menafsirkan keliru dengan legitimasi jabatan sebagaimana yang ditafsirkan terhadap Petrus. Keutamaannya bukanlah meninggikan dirinya di atas semua murid yang lain, tetapi ditempatkan di atas sejarah keselamatan Allah. Ia sama dengan murid yang lainnya. Sebab itu, kuasa kunci yang dijanjikan kepadanya, juga menjadi milik murid yang lain (bnd. Mat 16:19 dengan 18:18). Ada pendapat yang mengatakan bahwa sebaiknya kuasa itu dihubungkan dengan kuasa yang mengikat dan melepaskan umat dari kehidupannya yang lama, dan berhubungan erat dengan peraturan tentang ajaran dan disiplin gereja.28)

Dengan demikian apa pun sumbangsih dari orang-orang yang berperan sebagai guru, namun keseluruhan jemaat Matiuslah yang memutuskan seluruh persoalan-persoalan mengenai ajaran dan disiplin. Sebagaimana ditunjukkan oleh Matius 18:18-20 bahwa dalam membuat keputusan-keputusan seperti itu, mereka berkumpul bersama di dalam nama dan karena itu di hadapan serta dengan kuasa Anak Allah yang dimuliakan. Lagi pula segala batu ujian atas segala keputusan mereka adalah apa yang telah diperintahkan Yesus (Mat 28:20).

2. Kedudukan Sosial

Penulis telah menyampaikan bahwa komunitas Matius kemungkinan besar berada di lingkungan “kota”, Antiokia Syria. Daerah perkotaan dalam statistik Injil Matius akan menarik lagi kalau memperhatikannya sebagai tempat kedudukan dalam kehidupan untuk bagian yang penting dan berarti dari kehidupan dan pelayanan Yesus serta para murid-Nya. Demikianlah Yesus dibesarkan di Kota Nazareth (Mat 2:23; 21:11). Dalam tugas pelayanan dan pemberitaan-Nya, ia menjadikan kota Kapernaun sebagai basis pelayanan (Mat 4:13; 9:1). Dan ketika ia meninggalkan Kapernaum, ia mengunjungi semua kota di Galilea (Mat 9:23, 35; 11:1). Akhirnya ia menyelesaikan pelayanan-Nya di kota Yerusalem (Mat 21:1-28:15). Untuk para murid, Yesus juga menjelaskan bahwa mereka melaksanakan pelayanan mereka di lingkungan kota (bnd. Mat 10:11, 14,15,23; 23:34). Dengan demikian boleh dikatakan bahwa anggota dari komunitas Matius adalah anggota-anggota dari suatu “jemaat kota”.

Selain itu, sangat kuat identifikasi bahwa anggota komunitas Matius adalah orang-orang yang berada. Contohnya, Yesus menurut Lukas memaklumkan berkat kepada orang-orang miskin (Luk 6:20). Tetapi menurut Matius, Yesus memberkati orang “yang miskin di hadapan Allah” (Mat 5:3). Yesus menurut Markus memerintahkan para murid agar dalam melakukan perjalanan pelayanan mereka tidak membawa “uang dalam ikat pinggang” (yakni pecahan kecil; Mrk 6:8). Tetapi menurut Matius, Yesus memerintahkan agar tidak membawa “emas dan perak atau tembaga dalam ikat pinggang” (Mat 10:9). Yesus menurut Lukas, menyampaikan perumpamaan mengenai “uang Mina” (Luk 19:11-27), sedangkan menurut Matius, Yesus menyampaikan perumpamaan mengenai “Talenta” (Mat 25:14-30); satu talenta kira-kira sebanding dengan lima puluh kali satu mina. Dalam Markus (15:43) dan Lukas (23:50-51), Yusuf dari Arimatea adalah seorang dari anggota dewan yang menantikan Kerajaan Allah. Tetapi dalam Matius, ia adalah “seorang kaya … yang juga adalah murid Yesus” (Mat 27:57). Dengan demikian kedukukan sosial komunitas Matius cukup baik, bahkan mereka adalah orang-orang kaya dan tidak terlalu kesulitan dalam hal harta benda.

1. A.M Hardjana, Pengahayatan Agama, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 14-17.

2. Kamus Besar Bahasa Indonesia, hlm.

3. Greg Herrick, Artikel Soteriology : Salvation.

4. J. I. Packer, “Salvation Jesus Rescues His People From Sin”, Concise Theology : A Guide to Historic Christian Belief.

5. C. Groenen Soteriologi Alkitabiah : Keselamatan Yang Diberitakan Alkitab, (Yogyakarta : Kanisius, 1989), hlm. 11.

6. John G. Reisinger, “God’s Part and Man’s Part in Salvation”

7. C. Groenen, op.cit, hlm. 16.

8. Tom Jacobs, Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru, (Yogyakarta : Kanisius, 1982), hlm.125

9. Lukas 19:10 bnd. Lukas 23:35, 37, 39.

10. Tom Jacobs, op.cit, hlm. 127.

11. G.B. Caird, Saint Luke : SCM Pelican Commentaries (Norwich : SCM Press Ltd, 1977), hlm. 36.

12. William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Injil Lukas (Jakarta : PT. BPK Gunung Mulia, 2003), hlm. 345.

13. Ibid, hlm. 345.

14. B. J. Bolland, Tafsiran Alkitab Injil Lukas (Jakarta : PT BPK Gunung Mulia, 2001), hlm. 445-446.

15. Groenen, C., Op.cit., hlm 88

16. Meskipun tulisan-tulisan Injil Matius mencerminkan suatu warna semitisme (translasi bahasa Ibrani atau Aram), namun Matius cukup ahli menguasai pengguaan bahasa Yunani secara luas.

17. Kingsbury, J. D., Injil Matius Sebagai Cerita, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), hlm.196.

18. Ibid, hlm. 197.

19. Ibid, hlm. 200.

20. Minear. P.S. “Matthew” dalam France, R.T., Matthew Evangelist and Teacher (Michigan: Paternoster Press, 1989), hlm 256.

21. Kilpatrick, G.D., The Origin of the Gospel according to St. Matthew (Oxford: Clarendom, 1946), hlm. 135-139.

22. France, R.T., Op. cit., hlm. 111.

23. Ibid, hlm. 112.

24. Stanton, G.N., Op.cit., hlm 120.

25. Saldarini, A.J., Op.cit., hlm 265

26. Kingsbury, Op. cit., hlm 207.

27. Bnd. Mat 4:18-20; 10:2; 16:16.

28. France, R.T., Op.cit., hlm 247.